Sabtu, 21 Maret 2015

perasaan terpendam...


Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya setiap akan berangkat ke sekolah, aku menunggunya tepat di pintu gerbang rumahku. Kami memang selalu berangkat ke sekolah bersama, meskipun sekolah kami berbeda, namun masih searah. Usianya yang setahun lebih tua dariku sama sekali bukan perbedaan bagiku. Juga kenyataan bahwa dia adalah gadis yang populer di SMAnya sedangkan aku hanyalah anak SMP. Aku tetap menyukai apapun yang ditampilkan olehnya, apapun yang dikatakannya, dan pada apapun yang membuatnya tersenyum. Entah bagaimana awalnya aku bisa menyukai gadis yang jelas-jelas lebih tua dariku, tapi saat kau remaja, cinta tak akan pernah melirik perbedaan kecil semacam itu.

"Sekarang pukul 06.20 dan dia belum keluar juga dari rumahnya. dasar cewek pemalas, bisa-bisa ntar telat nih..." Pikirku yang mulai khawatir karena dia yang tak kunjung keluar juga.

Namun tak pelak tetap saja aku menunggunya dengan sabar. Yah, seperti yang mereka bilang bahwa cinta akan membuatmu rela melakukan apapun bahkan jika itu bisa membunuhmu sekalipun. Tentu saja tidak akan sejauh itu, namun kupikir mungkin saja aku bisa senekat itu suatu saat nanti. Demi cinta.

"Hufftt.... akhirnya..."  Lima menit kemudian dia keluar dari rumahnya, terlihat cerah ceria seperti biasanya. Dengan senyum penyesalan yang dibuat-buat dia berjalan cepat menghampiriku sambil menuntus sepedanya.

"Lama amat, ntar kalo telat gimana coba?" Kataku ketus sebagai ganti ucapan selamat pagi

"Maaf, maaf... Aku tadi musti masakin sarapan dulu buat ayah, ibu lagi agak demam." Balasnya sambil tersenyum dan menjulurkan sedikit lidahnya. Sangat manis. Begitu menggemaskan. Bagaimana mungkin aku bisa betah berlama-lama sebal pada gadis secantik dia. Senyum bungah karena bertemu dengannya yang sejak awal kutahan tak urung keluar juga, menjebol pertahananku yang mencoba bersikap tegas padanya atas keterlambatannya. Tapi apa daya, lagi-lagi cinta bisa membuatmu melupakan logika sama sekali.

"Naah, gitu dong senyum. kamu jelek tau kalo manyun gitu. Lagian masa pagi-pagi gini pacarnya udah dikasih muka asem aja sih." Dia benar-benar tahu bagaimana membuatku tak berkutik di depannya.

"Tapi awas aja kalo besok-besok diulangin lagi ya!" Aku mencoba memberikan nada tegas yang sia-sia karena wajah manisnya itu seperti menahan dunia untuk marah padanya.

"Iya-iya, bawel ah... Yuk berangkat" Dia mulai menaiki sepedanya dan mengayuhnya pelan.



"Kamu kok malah ngelamun di sini Jun? Mama kira kamu udah berangkat dari tadi. Gak telat emang?" Tiba-tiba terdengar suara mama di belakangku.

"Eh, iya ma. Ini juga juna mau berangkat kok. Pergi dulu ya ma..." Dengan tergesa-gesa aku mengayuh sepedaku, meninggalkan mama yang masih keheranan melihatku yang salah tingkah. Cepat-cepat aku mengekor di belakang gadis pujaanku yang sedang bercanda dengan teman-teman sebaya SMAnya. Tanpa mempedulikan keberadaanku.

6 komentar:

  1. J-Juna? Chef Juna... is that you?

    Kayaknya yang kurang penggunaan huruf kapitalnya aja sih, Mas Dani. Dari awal paragraf yang kelihatan pakai kapital cuma di kata SMA sama SMP, ya nggak? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, bukan mbak, dia junaidi yang di sinetron jin dan jun...

      penulisannya belum baku yah mbak dinda?
      thanks buat sarannya, akan segera diperbaiki...
      dan sekali lagi terimakasih udah mau baca tulisan saya

      Hapus
  2. Ng ... sebenernya mau cerita tentang apa ya?
    Cowok SMP yang jatuh cinta sama cewek SMA? Atau sebenarnya percakapan antara "aku" dan cewek SMA yang ditaksirnya itu hanya ada di imajinasinya?

    Kurang dapet sih penyampaiannya, menurutku.

    Keep writing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih belom kuat ternyata yah mbak?
      yang pengen disampein sih kurang lebih cowok abg yang baru mengenal cintanya, tapi cuma bisa dipendam karena belom ada kesempatan buat nyatainnya. akhirnya ya cuma bisa ngebayangin kalo si cewek pujaannya ini 'ngeh dengan keberadaan dia dan bahkan mereka pacaran...

      thanks masukannya mbak Red Carra, buat bekal tulisan ke depannya...

      Hapus
  3. Hihihi, lucu endingnya... walaupun jadi ketebak karena judulnya, keep writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya,,, kebocor sama judulnya.. baru nyadar...
      thanks anyway brother

      Hapus