Sabtu, 21 Maret 2015

AIR MATA ZIYA


Fikri duduk terdiam di dalam bus yang mengantarkannya menuju ke stasiun. Ia menatap jalanan padat ibukota, seperti biasanya. Hari ini fikri akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Meinggalkan kampung halamannya, keluarganya, semua teman-temannya, dan fauziya, gadis berkerudungnya, yang dengan anggun selalu hadir dalam setiap angannya akan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Entah bagaimana awalnya sehingga seorang lelaki konyol seperti fikri dapat dibuat tak berkutik di hadapan gadis itu. Tak pernah terpikir oleh Fikri sebelumnya, bagaimana mungkin seorang Fikri yang tak pernah bisa serius menghadapi perempuan, akhirnya bisa menetapkan hatinya untuk seorang gadis. Ia tak pernah menolak untuk memiliki seorang istri baik hati dan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Hanya saja ia merasa bahwa sekarang bukan saatnya untuk itu, ada cita-cita yang harus ia wujudkan. Cita-cita besarnya, mimpi orang tuanya bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi orang besar dan dapat membanggakan mereka. Ia tidak akan main-main dengan itu, terlalu banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang tuanya hanya demi seorang Fikri.
####
Fikri melangkah perlahan menuju ke stasiun, hatinya masih tak tentu arah. Ada hal yang masih mengganggu pikirannya. Sudah berkali-kali ia coba menghubungi ziya namun tak membuahkan hasil. Ia tak mengharapkan apapun, hanya ucapan selamat tinggal. langkahnya terhenti sebentar. Dirogohnya saku celana untuk mengambil telepon genggamnya, mencoba menelepon ziya sekali lagi, untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi.
Tut... tut... tut...
Tersambung, kali ini tersambung. Jantung fikri tiba-tiba berdetak tak keruan. Nadinya berdenyut-denyut tanpa ampun. Semakin tak berarutan lagi ketika terdengar jawaban di ujung telepon.
“assalamualaikum, iya mas?”
“waalaikumsalam, ziya...” tiba-tiba fikri bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
“iya, maaf mas, handphone ziya kemarin ketinggalan di kamar. Ziya nggak tahu kalau mas fikri hubungin ziya. Mas berangkat hari ini ya?” suara lembut itu membuat kaki fikri lemas.
“gak pa-pa zi, mas kemarin Cuma mau pamit doang kok. Ini mas lagi di stasiun, bentar lagi berangkat. Kamu lagi dimana? Kok ribut banget?” fikri mencoba berbasa-basi agar tak terdengar canggung.
“iya mas, ziya emang lagi di tempat rame. Kereta mas jam berapa berangkat?”
“masih setengah jam lagi sih, tadi mas sengaja berangkat lebih awal biar nggak telat. Takut kena macet.” Percuma saja fikri mencoba tenang. Bahkan sekarang suaranya terasa bergetar dengan jelas.
“mas kok kayak yang gemetaran gitu sih, mas lagi nggak enak badan? Mas nggak kenapa-kenapa kan? Suara lembut ziya terdengar khawatir, dan begitu tulus.
Semua ini hanya menambah kecanggungan fikri semakin menjadi-jadi. Tak tahu lagi harus mengatakan apa, akhirnya fikri memutuskan untuk menutup teleponnya.
Mungkin lebih baik kalau lewat sms saja, begitu pikirnya. Namun tiba-tiba teleponnya bordering.
Ziya..
Mau tak mau fikri menjawab telepon itu.
“assalamualaikum, Kok teleponnya mati mas?”
“Waalaikumsalam, ee.. itu tadi, mungkin tadi jaringannya lagi jelek.” Bohong.
“oh, mas kenapa bohong?”
Deg!!
“maksud kamu?”
“mas tadi yang sengaja nutup telepon. Ziya lihat kok. Mas coba tengok ke belakang.. klik” telepon mati
Jantung fikri serasa berhenti. Entah ia harus senang, marah atau bagaimana lagi. Kaget. Mungkin itu deskripsi yang paling tepat. Tak tahu harus bagaimana lagi.
Perlahan gadis itu menghampiri fikri yang terdiam mematung seperti orang kehilangan akal. Ziya melangkah pelan dengan senyum anggunnya yang melenakan. Tak pernah tidak cantik, namun ada sesuatu yang tak biasa. Paduan antara kerudung dan bajunya, dandanannya hari ini seperti sesuatu yang tidak asing, sesuatu yang istimewa.
“mas belum jawab pertanyaan ziya. Kenapa bohong sama ziya tadi?” nadanya menyelidik, menuntut sesuatu. Hebatnya kaum hawa, selalu tahu bagaimana cara membuat lelaki tak berkutik dengan pertanyaannya.
“....” fikri masih seperti tersihir, lidahnya terasa kelu tak tahu harus berkata apa.
Ziya tersenyum, lagi-lagi.
“ya udah kalau mas nggak mau ngomong. Mungkin nggak tepat kalau ziya ke sini. Sebaiknya ziya pulang. Kereta mas bentar lagi datang kan. Lebih baik mas siap-siap aja dulu biar nanti nggak buru- buru.”
“Oh, okeh, ya udah ati-ati di jalan ya zi,” jawab fikri dengan datarnya. Fikri bodoh!! Umpatnya dalam hati.
“oh, ya udah mas, assalamualaikum...” kebingungan jelas terlihat dari wajah ziya. Bingung dan sedikit goresan kecewa.
“waalaikumsalam” Bodoh!!! Rutuk fikri dala hati. Ya, hanya bisa bicara dalam hati.
Masa gitu doang. Please jangan bikin aku nekat lebih dari ini mas...
ziya berbalik dan beranjak pelan-pelan. Dua langkah, tiga langkah dan akhirnya ziya menyerah. Entah dia yang terlalu nekat atau lelaki di hadapannya itu yang begitu bodoh hingga tak menangkap maksud dirinya yang sebenarnya. Ziya berbalik lagi dan dengan gemas berkata
“sumpah ya, baru kali ini ziya ketemu orang kayak mas fikri. Mas sengaja ya mau bikin ziya gila? Mas mau ziya nunggu sampai kapan? Atau ziya yang harus ngomong duluan ke mas fikri? Hiihhh, bikil jengkel tau nggak!”
“...” semakin kaget fikri mendengar apa yang baru saja ziya ucapkan.
“maaf mas, nggak seharusnya ziya bicara kayak gitu. Maaf. Mending ziya pulang aja. Assalamualaikum.” Buru-buru ziya melangkah sambil menyesali ucapannya yang tak terkendali barusan.
“ziya tunggu!!” seru fikri. Spontan ziya menoleh ke belakang lagi.
“mas belum jawab salam kamu. Waalaikumsalam.” Jawab fikri dengan muka datar.
“iihhhh, mas fikriii...!!!” ziya tersenyum kesal setelah melihat ada senyum jail di wajah fikri.
“heheheh,, maaf, maaf. Okay, sekarang mas mau ngomong serius sama kamu. Mas harap apapun yang mas omongin, nggak akan ngerubah sikap kamu ke mas fikri ya.” Fikri berusaha mengatur nafasnya pelan. Mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Di sisi lain, ziya pun mencoba membuat dirinya terlihat tenang. Ia tahu betul apa yang akan dibicarakan oleh lelaki konyol di hadapannya itu jika dilihat dari gelagatnya. Namun bukan fikri namanya jika mudah ditebak. Sudah berkali-kali ziya tertipu dengan sikap dan gaya fikri yang membingungkan. Ada sedikit rasa takut dalam hatinya, takut kalau-kalau apa yang dipikirkan ziya ternyata salah. Takut bahwa selama ini ia hanya salah paham mengenai perasaan fikri kepadanya, dan bahwa apa yang ia rasakan hanya bertepuk sebelah tangan.
“fauziya, jika ada gadis yang kuharapkan menjadi alasanku untuk menyempurnakan agamaku, menjadi pelengkap tulang rusukku, dan menemaniku menjadi sejatinya lelaki, maka gadis itu adalah kamu, sejak pertama ku lihat kamu mengenakan jilbab itu. Mas nggak punya kata-kata romantis ataupun janji-janji manis seperti yang banyak orang lain ucapkan. mas juga nggak bisa ngasih kamu bukti betapa kamu adalah gadis yang mas impikan menjadi pendamping mas nanti. Namun jika memang Allah mengijinkan kamu menjadi takdirku, jika memang kamulah yang jadi jawaban Allah atas doaku tentang seorang istri. Maka Insya Allah dengan seluruh hati ini, sepenuh jiwa ini, dan dengan setiap nafas yang dianugerahkan olehNya, tak akan kubiarkan ada sesal dalam hidupmu telah mendampingiku.” Panjang lebar fikri mengungkapkan isi hatinya.
Ada airmata meleleh di pipi ziya. Perasaan terharu, juga lega bahwa hal yang paling ditunggunya akhirnya terungkap. Bahwa ada cinta yang menghubungkan mereka.
“....” dan kini giliran ziya yang tak mampu berkata apa-apa lagi.
“kamu nggak perlu jawab apapun zi. air mata kamu, mas udah tahu jawabannya. Jika kamu yakin sama mas, sama apa yang kita perjuangkan, maka alasan mas kembali nanti adalah jawaban Allah atas doa kita berdua.” Ingin sekali fikri mengusap air mata yang mengalir di pipi menggemaskan seorang fauziya, tapi ia tahu ini belum saatnya.
“....” 

“....”

Mereka berdua diam, tak ada lagi kata-kata yang perlu diungkapkan. Tak perlu lagi ada yang dibicarakan. Hanya senyum yang terlihat di wajah mereka. Ada sejuk menyelinap di hati, ketika segala yang terpendam telah saling terungkapkan. Sedikit rikuh, namun terasa nyaman.
Bunyi peluit kereta melengking panjang. Sudah saatnya fikri berangkat. Akhirnya fikri mengucapkan salam. Berbalik pergi menuju keretanya yang beranjak melaju. Di ambang pintu kereta dilihatnya untuk terakhir kali senyum melenakan itu. Senyum yang akan memaksanya kembali untuk sebuah janji. untuk ziya.

####  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar