Sabtu, 21 Maret 2015

ANAK KEBANGGAAN KELUARGA


Ping!!
Kak... L
Knapa kan?
 Kita bisa ktemu gak besok sore? Ada yang pengen aku ceritain ke kak bayu
Bisa kok, kakak jemput kamu di sekolah besok jam 3 ya
Oke, thanks kak.. aku tunggu kakak di depan sekolah

###
Bayu terburu-buru menyalakan motornya. Sudah pukul setengah dua. jarak Tangerang-Jakarta tidak terlalu jauh, namun jalanan ibukota tidak selalu bersahabat,  macet di sana-sini  membuat perjalanan serasa memakan waktu berkali lipat dari seharusnya. Ia janji menemui Kania di sekolah. Bayu bertanya-tanya apa yang akan disampaikan adik semata wayangnya itu.
“Kania! Maaf kakak telat. Kamu udah lama nunggunya?”
“gapapa kak, Kania juga baru sebentar kok. Jangan ngobrol di sini dong kak.” Kania tersenyum. Wajahnya agak sayu, tidak ceria seperti biasanya.
“kita ke kafe biasa aja mau? biar kamu ntar pulangnya gampang.”
“terserah kak bayu aja. Kakak gak lagi sibuk kan?”
“nggak kok. Kamu santai aja. Ayo kita berangkat.”
Bayu dan Kania bersaudara. Bayu  meninggalkan rumah dua tahun yang lalu karena ayahnya yang tidak setuju bayu menikah dengan istrinya, fadia. Kini Bayu tinggal di tangerang bersama istrinya, membangun keluarga kecil bersama istrinya. Sejak ia pergi, belum pernah ia pulang atau bahkan sekedar mengirim kabar ke orang tuanya di rumah. Hanya Kania, itu pun Bayu  melarangnya untuk memberi tahu keluarga besarnya mengenai keadaan Bayu saat ini. Ia seolah tak ingin berurusan lagi dengan mereka.
Bayu dan Kania duduk berhadapan, ditemani secangkir kopi dan iced lemon tea di depan mereka. Kania terlihat agak gelisah, seperti ada yang ingin disampaikan tapi bingung bagaimana mengatakannya.
“gimana kabar mama di rumah?” Bayu memulai percakapan.
“mama baik kok kak, aku selalu cerita ke mama tentang kakak. Mama ngerti sama kondisi kakak. Mama juga sering nanyain Kak Dia ke aku. Minggu lalu mama minta aku nelpon Kak Dia. Mereka ngobrol lama banget.” Kania tersenyum.
Senyum Kania begitu mirip dengan mamanya. Bayu menatap Kania lama. Ia begitu ingin bertemu dengan mamanya, namun ada ego yang menahan. Harga dirinya melarang Bayu untuk menginjakkan kakinya ke rumah yang membesarkannya. Tidak setelah apa yang dilakukan oleh keluarga besarnya pada istrinya tercinta.
“Alhamdulillah kalo gitu. Tapi kok Kak Dia gak pernah cerita ya?”
“mama yang ngelarang. Mama takut Kakak marah kalo sampai tahu. Emang Kak Bayu segitu marahnya ya sama papa sama mama? Sampai Kak Bayu pergi dan gak mau pulang ke rumah.”
“Kakak gak marah sama mereka. Kakak sayang banget sama mama dan papa. Gak akan ada yang bisa ngerubah itu. Tapi sekarang Kakak udah punya keluarga kan, ada yang harus kakak lindungi. Gak mungkin Kakak tahan ngelihat sikap Mama sama papa ke istri Kakak. Kita udah pernah bahas ini kan...”
“Aku ngerti gimana perasaan Kak Bayu. aku minta kita ketemu bukan buat ngajak Kakak pulang kok. Aku cuma mau ngasih tahu Kakak. Kemarin sore Papa dibawa ke rumah sakit. Papa kena stroke Kak. Aku berharap banget kak bayu sama kak dia mau jengukin Papa.” Mata Kania mulai berkaca-kaca
“Kenapa kamu gak langsung kasih tau Kakak kemarin? Kamu kan bisa nelpon Kakak.”
“Aku takut ganggu Kakak di kantor. Makanya kemarin aku mikir mending kalo aku hubungin Kak Dia aja. Trus Kak Dia bilang, aku mesti ngomong langsung ke Kak Bayu. Makanya aku minta kita ketemu sekarang.”
“Kania, Kakak gak mau jadi anak durhaka. Mana mungkin Kakak ngerasa terganggu kalo denger kabar kayak gini. Kamu tahu gimana kakak kan.”
“Maafin aku kak, aku bingung banget kemarin.”
“Ya udah, yang penting sekarang Kakak udah tahu. Semoga Papa cepat sembuh. Kamu harus jagain Mama. Kamu harus bikin Mama kuat. Tapi maaf banget, Kakak belum bisa jenguk Papa dulu. Kakak lagi banyak kerjaan akhir-akhir ini.”
“Kak, please... jangan kira aku gak tahu Kak Bayu kayak gimana. Aku udah gede Kak, Kakak gak bisa boong sama aku.”
“Kakak tahu kok. Mending sekarang kamu pulang aja dulu. maaf Kakak gak bisa nganter kamu. Kakak harus jemput kak dia di rumah budenya.kamu gapapa kan sendirian?”
“Kak Bayu gak usah khawatir. Aku bisa sendiri kok. Aku Cuma minta Kakak mau maafin Papa dan balik ke rumah lagi. Papa jadi gini karena mikirin kakak terus. Aku harap kakak mau mempertimbangkan tentang itu. Aku pergi dulu.”
Kania beranjak dari duduknya sambil mengusap airmata di pipinya. Berusaha terlihat baik-baik saja. Meninggalkan Bayu bergelut dengan pikirannya. Ia tahu Kakaknya keras kepala seperti Papa, Bayu butuh waktu berpikir. Kania hanya bisa berdoa agar hati kakaknya bisa melunak dan mau menemui Papanya.

Terkadang Kania masih tak habis mengerti bagaimana bisa hubungan antara Papa dan Kakaknya bisa jadi seperti sekarang. Bisa dibilang Bayu telah mewujudkan semua impian keluarganya. Seorang anak pertama kesayangan Mama dan kebanggaan Papa. Bagaimana tidak, selalu menjadi peringkat terbaik di kelas selama sekolah, Bayu memiliki semua potensi yang diharapkan orang tua pada anaknya. Bahkan Kania sering merasa iri pada Bayu yang seolah mendapatkan perhatian lebih dari orang tuanya. Kania selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya itu. Kak Bayu begini, Kak Bayu begitu, selalu Kak Bayu yang menjadi patokan Papanya ketika menasehati Kania. Namun Bayu tak pernah merasa begitu, rasa sayang Bayu yang begitu besar, membuat Kania bisa menyingkirkan semua iri yang ada di hatinya.
Selama ini Bayu memang hampir tak pernah menolak apapun yang diinginkan orang tuanya. Ia selalu bisa menjadi yang dibanggakan. Tak heran papa begitu kaget ketika tiba-tiba Bayu menolak meneruskan usaha keuarga dan lebih memilih menikah muda dengan Fadiya, gadis yang dikenalnya di organisasi yang diikutinya di kampus dulu. Bayu tetap kukuh menikahi Fadiya meski orang tuanya tidak setuju dengan pernikahan mereka. Sebenarnya bukan karena Fadiya, hanya saja keputusan Bayu untuk merintis usahanya sendiri, dan tak ingin bergantung pada usaha Papanya benar-benar membuat Papanya naik pitam. Bukan hal yang salah sebenarnya, hanya saja Papanya merasa harga dirinya diinjak mendengar kata-kata Bayu ketika itu.
“Bayu pengen mulai dari nol. Bayu pengen sukses dengan usaha Bayu sendiri. Tanpa bantuan siapa pun. Bayu nggak mau tinggal enak-enak nerusin usaha Papa yang udah gede kayak sekarang.”
Memang dasarnya anak dan ayah sama-sama kepala batu, sama-sama tak mau mengalah. Papanya merasa kaget, belum pernah Bayu melawan seperti itu. Papanya mengira perubahan sikap Bayu ini pasti pengaruh dari Fadiya. Itulah mengapa Papa tak pernah suka dengan calon menantunya itu dan menolak habis-habisan ketika Bayu mengutarakan niatnya untuk menikahi Fadiya. Sedangkan Mama yang tak bisa apa-apa jika Papa sudah memutuskan sesuatu, hanya bisa diam saja. Mendapat respon penolakan dari keluarganya ternyata tak menyurutkan niat Bayu, ia pergi meninggalkan rumah dan melangsungkan pernikahan tanpa memberi kabar kepada orang tuanya. Hanya Kania yang Bayu beri tahu, adik kesayangannya.
Sudah 7 bulan sejak pernikahan Bayu dan kepergiannya dari rumah. Belum sekalipun ia memberi kabar maupun pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin karena syok yang begitu berat, Papa jadi mulai kurang sehat dan sering sakit. Menurut Dokter, Papa terlalu banyak pikiran sehingga membuat kondisi badannya lemah dan semakin menurun. Sejak Bayu pergi, Papa sering duduk termangu sendiri di depan televisi, di teras belakang, di mana saja. Kania sering melihat Papanya itu duduk termangu dengan pandangan kosong. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Meski karena keras kepalanya, papa selalu bilang bahwa ia tak memikirkan bayu sedikitpun, kania tahu betul bahwa hanya bayu yang memenuhi kepala sang papa. Papa begitu merindukan bayu kembali. Kania tak sanggup melihat kondisi Papa yang seperti sekarang, itulah kenapa ia memberanikan diri memberitahu Bayu meskipun Papanya melarangnya. Egoisme Papa yang begitu besar sudah menutupi perasaannya sendiri.
####
Di rumah sakit
Kania sedang menjaga Papanya, menggantikan Mama yang sudah dua hari ini tak beranjak dari samping Papa. Mama sedang terlelap di sofa di ujung ruangan. Itu pun setelah Kania membujuk dan memaksa Mama agar mau istirahat sebentar saja. Kania menggenggam tangan Papa, mencoba member kekuatan. Perlahan sekali, sambil terbata karena isak tangis yang ditahan, Kania mencoba bicara pada Papanya.
“Kania tahu Pa, Papa kayak gini karena terlalu mikirin Kak Bayu. Kenapa sih Papa keras kepala banget. Kalau Kak Bayu dikasih tahu tentang keadaan Papa, Kania yakin Kak Bayu pasti kesini. Ini semua kan demi kebaikan Papa. Demi keluarga kita.”
Kania masih berusaha menahan tangisnya. Ia sedih melihat Papanya hanya menatap kosong langit-langit kamar rumah sakit, lebih sedih lagi karena ia dengan jelas bisa melihat betapa papanya menyayangi bayu. Rasa sayang yang mungkin lebih besar dari sayang papa untuk dirinya.  Kania bisa merasakannya, yang meskipun papanya dengan keras menolak bayu, dalam hatinya ia begitu mengharapkan kehadiran anak sulungnya itu. Anak kebanggaannya. Sekuat hati, Kania melanjutkan kata-katanya.
“kania selalu ngiri sama kak bayu. Kak bayu selalu jadi nomor satu buat Papa, Kak Bayu selalu dapetin yang terbaik dari Papa sama Mama. Kadang Kania ngerasa seolah-olah Kania bukan bagian dari keluarga ini. selalu aja Kak Bayu yang jadi anak Papa dan Mama. Tapi Kak Bayu selalu bisa nenangin Kania, Kak Bayu selalu bisa bikin kania ngerasain kasih sayang keluarga ini, menjadi bagian keluarga. Sekarang kania udah gede Pa, Kania bisa ngerti kenapa papa selalu nomor satuin kak bayu. Karena kak bayulah yang nyatuin keluarga kita. Kania tahu papa sayang banget sama kak bayu. Jadi Kania mohon, ilangin keras kepala Papa dan baikan lagi sama Kak Bayu. Kania gak tega ngeliat Kapa, Mama sama Kak Bayu menderita kayak gini terus...” akhirnya Kania tak sanggup lagi, air matanya terlalu deras menetes.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan. Kania berpikir itu mungkin dokter yang hendak mengecek kondisi Papanya, buru-buru ia menenangkan diri dan mengusap air matanya.
“Seharusnya Kak Bayu yang gak keras kepala dan minta maaf ke Papa Kan, nggak seharusnya orang tua yang meminta maaf ke anaknya. Mereka hanya ingin yang terbaik buat kita. Dan jangan pernah kamu berpikir kalau kamu nggak berharga dalam keluarga kita. Kamu yang ngelengkapin keluarga kita. Kami semua sayang banget sama kamu.” Tiba-tiba Bayu dan istrinya muncul di belakang Kania. Ia memutsukan untuk datang.
Kania kaget, juga sangat bahagia. Ia tahu kakaknya pasti akan datang. Air matanya tak mampu ia tahan lagi.
“Bayu...” Mama terbangun, menatap tak percaya.
“Iya Ma, Bayu pulang.” Ucap Bayu perlahan diiringi senyum tipis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar