Sabtu, 21 Maret 2015
perasaan terpendam...
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya setiap akan berangkat ke sekolah, aku menunggunya tepat di pintu gerbang rumahku. Kami memang selalu berangkat ke sekolah bersama, meskipun sekolah kami berbeda, namun masih searah. Usianya yang setahun lebih tua dariku sama sekali bukan perbedaan bagiku. Juga kenyataan bahwa dia adalah gadis yang populer di SMAnya sedangkan aku hanyalah anak SMP. Aku tetap menyukai apapun yang ditampilkan olehnya, apapun yang dikatakannya, dan pada apapun yang membuatnya tersenyum. Entah bagaimana awalnya aku bisa menyukai gadis yang jelas-jelas lebih tua dariku, tapi saat kau remaja, cinta tak akan pernah melirik perbedaan kecil semacam itu.
"Sekarang pukul 06.20 dan dia belum keluar juga dari rumahnya. dasar cewek pemalas, bisa-bisa ntar telat nih..." Pikirku yang mulai khawatir karena dia yang tak kunjung keluar juga.
Namun tak pelak tetap saja aku menunggunya dengan sabar. Yah, seperti yang mereka bilang bahwa cinta akan membuatmu rela melakukan apapun bahkan jika itu bisa membunuhmu sekalipun. Tentu saja tidak akan sejauh itu, namun kupikir mungkin saja aku bisa senekat itu suatu saat nanti. Demi cinta.
"Hufftt.... akhirnya..." Lima menit kemudian dia keluar dari rumahnya, terlihat cerah ceria seperti biasanya. Dengan senyum penyesalan yang dibuat-buat dia berjalan cepat menghampiriku sambil menuntus sepedanya.
"Lama amat, ntar kalo telat gimana coba?" Kataku ketus sebagai ganti ucapan selamat pagi
"Maaf, maaf... Aku tadi musti masakin sarapan dulu buat ayah, ibu lagi agak demam." Balasnya sambil tersenyum dan menjulurkan sedikit lidahnya. Sangat manis. Begitu menggemaskan. Bagaimana mungkin aku bisa betah berlama-lama sebal pada gadis secantik dia. Senyum bungah karena bertemu dengannya yang sejak awal kutahan tak urung keluar juga, menjebol pertahananku yang mencoba bersikap tegas padanya atas keterlambatannya. Tapi apa daya, lagi-lagi cinta bisa membuatmu melupakan logika sama sekali.
"Naah, gitu dong senyum. kamu jelek tau kalo manyun gitu. Lagian masa pagi-pagi gini pacarnya udah dikasih muka asem aja sih." Dia benar-benar tahu bagaimana membuatku tak berkutik di depannya.
"Tapi awas aja kalo besok-besok diulangin lagi ya!" Aku mencoba memberikan nada tegas yang sia-sia karena wajah manisnya itu seperti menahan dunia untuk marah padanya.
"Iya-iya, bawel ah... Yuk berangkat" Dia mulai menaiki sepedanya dan mengayuhnya pelan.
"Kamu kok malah ngelamun di sini Jun? Mama kira kamu udah berangkat dari tadi. Gak telat emang?" Tiba-tiba terdengar suara mama di belakangku.
"Eh, iya ma. Ini juga juna mau berangkat kok. Pergi dulu ya ma..." Dengan tergesa-gesa aku mengayuh sepedaku, meninggalkan mama yang masih keheranan melihatku yang salah tingkah. Cepat-cepat aku mengekor di belakang gadis pujaanku yang sedang bercanda dengan teman-teman sebaya SMAnya. Tanpa mempedulikan keberadaanku.
ANAK KEBANGGAAN KELUARGA
Ping!!
Kak... L
Knapa kan?
Kita bisa ktemu gak besok sore? Ada yang
pengen aku ceritain ke kak bayu
Bisa kok, kakak jemput kamu di
sekolah besok jam 3 ya
Oke, thanks kak.. aku tunggu kakak
di depan sekolah
Bayu
terburu-buru menyalakan motornya. Sudah pukul setengah dua. jarak
Tangerang-Jakarta tidak terlalu jauh, namun jalanan ibukota tidak selalu bersahabat, macet di sana-sini membuat perjalanan serasa memakan waktu
berkali lipat dari seharusnya. Ia janji menemui Kania di sekolah. Bayu
bertanya-tanya apa yang akan disampaikan adik semata wayangnya itu.
“Kania!
Maaf kakak telat. Kamu udah lama nunggunya?”
“gapapa
kak, Kania juga baru sebentar kok. Jangan ngobrol di sini dong kak.” Kania
tersenyum. Wajahnya agak sayu, tidak ceria seperti biasanya.
“kita
ke kafe biasa aja mau? biar kamu ntar pulangnya gampang.”
“terserah
kak bayu aja. Kakak gak lagi sibuk kan?”
“nggak
kok. Kamu santai aja. Ayo kita berangkat.”
Bayu
dan Kania bersaudara. Bayu meninggalkan
rumah dua tahun yang lalu karena ayahnya yang tidak setuju bayu menikah dengan
istrinya, fadia. Kini Bayu tinggal di tangerang bersama istrinya, membangun
keluarga kecil bersama istrinya. Sejak ia pergi, belum pernah ia pulang atau
bahkan sekedar mengirim kabar ke orang tuanya di rumah. Hanya Kania, itu pun Bayu melarangnya untuk memberi tahu
keluarga besarnya mengenai keadaan Bayu saat ini. Ia seolah tak ingin berurusan
lagi dengan mereka.
Bayu
dan Kania duduk berhadapan, ditemani secangkir kopi dan iced lemon tea di depan
mereka. Kania terlihat agak gelisah, seperti ada yang ingin disampaikan tapi
bingung bagaimana mengatakannya.
“gimana
kabar mama di rumah?” Bayu memulai percakapan.
“mama
baik kok kak, aku selalu cerita ke mama tentang kakak. Mama ngerti sama kondisi
kakak. Mama juga sering nanyain Kak Dia ke aku. Minggu lalu mama minta aku
nelpon Kak Dia. Mereka ngobrol lama banget.” Kania tersenyum.
Senyum Kania begitu mirip dengan mamanya. Bayu menatap Kania lama. Ia begitu ingin
bertemu dengan mamanya, namun ada ego yang menahan. Harga dirinya melarang Bayu
untuk menginjakkan kakinya ke rumah yang membesarkannya. Tidak setelah apa yang
dilakukan oleh keluarga besarnya pada istrinya tercinta.
“Alhamdulillah
kalo gitu. Tapi kok Kak Dia gak pernah cerita ya?”
“mama
yang ngelarang. Mama takut Kakak marah kalo sampai tahu. Emang Kak Bayu segitu
marahnya ya sama papa sama mama? Sampai Kak Bayu pergi dan gak mau pulang ke
rumah.”
“Kakak
gak marah sama mereka. Kakak sayang banget sama mama dan papa. Gak akan ada
yang bisa ngerubah itu. Tapi sekarang Kakak udah punya keluarga kan, ada yang
harus kakak lindungi. Gak mungkin Kakak tahan ngelihat sikap Mama sama papa ke
istri Kakak. Kita udah pernah bahas ini kan...”
“Aku
ngerti gimana perasaan Kak Bayu. aku minta kita ketemu bukan buat ngajak Kakak
pulang kok. Aku cuma mau ngasih tahu Kakak. Kemarin sore Papa dibawa ke rumah
sakit. Papa kena stroke Kak. Aku berharap banget kak bayu sama kak dia mau
jengukin Papa.” Mata Kania mulai berkaca-kaca
“Kenapa
kamu gak langsung kasih tau Kakak kemarin? Kamu kan bisa nelpon Kakak.”
“Aku
takut ganggu Kakak di kantor. Makanya kemarin aku mikir mending kalo aku hubungin Kak Dia aja. Trus Kak Dia bilang, aku mesti ngomong langsung ke Kak Bayu.
Makanya aku minta kita ketemu sekarang.”
“Kania, Kakak gak mau jadi anak durhaka. Mana mungkin Kakak ngerasa terganggu kalo
denger kabar kayak gini. Kamu tahu gimana kakak kan.”
“Maafin
aku kak, aku bingung banget kemarin.”
“Ya
udah, yang penting sekarang Kakak udah tahu. Semoga Papa cepat sembuh. Kamu
harus jagain Mama. Kamu harus bikin Mama kuat. Tapi maaf banget, Kakak belum
bisa jenguk Papa dulu. Kakak lagi banyak kerjaan akhir-akhir ini.”
“Kak,
please... jangan kira aku gak tahu Kak Bayu kayak gimana. Aku udah gede Kak, Kakak gak bisa boong sama aku.”
“Kakak
tahu kok. Mending sekarang kamu pulang aja dulu. maaf Kakak gak bisa nganter
kamu. Kakak harus jemput kak dia di rumah budenya.kamu gapapa kan sendirian?”
“Kak Bayu gak usah khawatir. Aku bisa sendiri kok. Aku Cuma minta Kakak mau maafin Papa dan balik ke rumah lagi. Papa jadi gini karena mikirin kakak terus. Aku
harap kakak mau mempertimbangkan tentang itu. Aku pergi dulu.”
Kania
beranjak dari duduknya sambil mengusap airmata di pipinya. Berusaha terlihat
baik-baik saja. Meninggalkan Bayu bergelut dengan pikirannya. Ia tahu Kakaknya
keras kepala seperti Papa, Bayu butuh waktu berpikir. Kania hanya bisa berdoa
agar hati kakaknya bisa melunak dan mau menemui Papanya.
Terkadang Kania masih tak habis mengerti bagaimana bisa hubungan antara Papa dan Kakaknya
bisa jadi seperti sekarang. Bisa dibilang Bayu telah mewujudkan semua impian
keluarganya. Seorang anak pertama kesayangan Mama dan kebanggaan Papa.
Bagaimana tidak, selalu menjadi peringkat terbaik di kelas selama sekolah, Bayu
memiliki semua potensi yang diharapkan orang tua pada anaknya. Bahkan Kania
sering merasa iri pada Bayu yang seolah mendapatkan perhatian lebih dari orang
tuanya. Kania selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya itu. Kak Bayu
begini, Kak Bayu begitu, selalu Kak Bayu yang menjadi patokan Papanya ketika
menasehati Kania. Namun Bayu tak pernah merasa begitu, rasa sayang Bayu yang
begitu besar, membuat Kania bisa menyingkirkan semua iri yang ada di hatinya.
Selama
ini Bayu memang hampir tak pernah menolak apapun yang diinginkan orang tuanya.
Ia selalu bisa menjadi yang dibanggakan. Tak heran papa begitu kaget ketika
tiba-tiba Bayu menolak meneruskan usaha keuarga dan lebih memilih menikah muda
dengan Fadiya, gadis yang dikenalnya di organisasi yang diikutinya di kampus
dulu. Bayu tetap kukuh menikahi Fadiya meski orang tuanya tidak setuju dengan
pernikahan mereka. Sebenarnya bukan karena Fadiya, hanya saja keputusan Bayu
untuk merintis usahanya sendiri, dan tak ingin bergantung pada usaha Papanya
benar-benar membuat Papanya naik pitam. Bukan hal yang salah sebenarnya, hanya
saja Papanya merasa harga dirinya diinjak mendengar kata-kata Bayu ketika itu.
“Bayu
pengen mulai dari nol. Bayu pengen sukses dengan usaha Bayu sendiri. Tanpa
bantuan siapa pun. Bayu nggak mau tinggal enak-enak nerusin usaha Papa yang
udah gede kayak sekarang.”
Memang
dasarnya anak dan ayah sama-sama kepala batu, sama-sama tak mau mengalah.
Papanya merasa kaget, belum pernah Bayu melawan seperti itu. Papanya mengira
perubahan sikap Bayu ini pasti pengaruh dari Fadiya. Itulah mengapa Papa tak pernah
suka dengan calon menantunya itu dan menolak habis-habisan ketika Bayu
mengutarakan niatnya untuk menikahi Fadiya. Sedangkan Mama yang tak bisa apa-apa
jika Papa sudah memutuskan sesuatu, hanya bisa diam saja. Mendapat respon
penolakan dari keluarganya ternyata tak menyurutkan niat Bayu, ia pergi
meninggalkan rumah dan melangsungkan pernikahan tanpa memberi kabar kepada
orang tuanya. Hanya Kania yang Bayu beri tahu, adik kesayangannya.
Sudah
7 bulan sejak pernikahan Bayu dan kepergiannya dari rumah. Belum sekalipun ia
memberi kabar maupun pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin karena syok yang
begitu berat, Papa jadi mulai kurang sehat dan sering sakit. Menurut Dokter, Papa terlalu banyak pikiran sehingga membuat kondisi badannya lemah dan semakin
menurun. Sejak Bayu pergi, Papa sering duduk termangu sendiri di depan
televisi, di teras belakang, di mana saja. Kania sering melihat Papanya itu
duduk termangu dengan pandangan kosong. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Meski
karena keras kepalanya, papa selalu bilang bahwa ia tak memikirkan bayu
sedikitpun, kania tahu betul bahwa hanya bayu yang memenuhi kepala sang papa.
Papa begitu merindukan bayu kembali. Kania tak sanggup melihat kondisi Papa
yang seperti sekarang, itulah kenapa ia memberanikan diri memberitahu Bayu
meskipun Papanya melarangnya. Egoisme Papa yang begitu besar sudah menutupi
perasaannya sendiri.
####
Di rumah sakit
Kania
sedang menjaga Papanya, menggantikan Mama yang sudah dua hari ini tak beranjak
dari samping Papa. Mama sedang terlelap di sofa di ujung ruangan. Itu pun
setelah Kania membujuk dan memaksa Mama agar mau istirahat sebentar saja. Kania
menggenggam tangan Papa, mencoba member kekuatan. Perlahan sekali, sambil
terbata karena isak tangis yang ditahan, Kania mencoba bicara pada Papanya.
“Kania
tahu Pa, Papa kayak gini karena terlalu mikirin Kak Bayu. Kenapa sih Papa keras
kepala banget. Kalau Kak Bayu dikasih tahu tentang keadaan Papa, Kania yakin Kak Bayu pasti kesini. Ini semua kan demi kebaikan Papa. Demi keluarga kita.”
Kania
masih berusaha menahan tangisnya. Ia sedih melihat Papanya hanya menatap kosong
langit-langit kamar rumah sakit, lebih sedih lagi karena ia dengan jelas bisa
melihat betapa papanya menyayangi bayu. Rasa sayang yang mungkin lebih besar
dari sayang papa untuk dirinya. Kania
bisa merasakannya, yang meskipun papanya dengan keras menolak bayu, dalam
hatinya ia begitu mengharapkan kehadiran anak sulungnya itu. Anak
kebanggaannya. Sekuat hati, Kania melanjutkan kata-katanya.
“kania
selalu ngiri sama kak bayu. Kak bayu selalu jadi nomor satu buat Papa, Kak Bayu
selalu dapetin yang terbaik dari Papa sama Mama. Kadang Kania ngerasa
seolah-olah Kania bukan bagian dari keluarga ini. selalu aja Kak Bayu yang jadi
anak Papa dan Mama. Tapi Kak Bayu selalu bisa nenangin Kania, Kak Bayu selalu
bisa bikin kania ngerasain kasih sayang keluarga ini, menjadi bagian keluarga.
Sekarang kania udah gede Pa, Kania bisa ngerti kenapa papa selalu nomor satuin
kak bayu. Karena kak bayulah yang nyatuin keluarga kita. Kania tahu papa sayang
banget sama kak bayu. Jadi Kania mohon, ilangin keras kepala Papa dan baikan
lagi sama Kak Bayu. Kania gak tega ngeliat Kapa, Mama sama Kak Bayu menderita
kayak gini terus...” akhirnya Kania tak sanggup lagi, air matanya terlalu deras
menetes.
Tiba-tiba
pintu kamar terbuka pelan. Kania berpikir itu mungkin dokter yang hendak
mengecek kondisi Papanya, buru-buru ia menenangkan diri dan mengusap air
matanya.
“Seharusnya Kak Bayu yang gak keras kepala dan minta maaf ke Papa Kan, nggak seharusnya
orang tua yang meminta maaf ke anaknya. Mereka hanya ingin yang terbaik buat
kita. Dan jangan pernah kamu berpikir kalau kamu nggak berharga dalam keluarga
kita. Kamu yang ngelengkapin keluarga kita. Kami semua sayang banget sama
kamu.” Tiba-tiba Bayu dan istrinya muncul di belakang Kania. Ia memutsukan
untuk datang.
Kania
kaget, juga sangat bahagia. Ia tahu kakaknya pasti akan datang. Air matanya tak
mampu ia tahan lagi.
“Bayu...” Mama terbangun, menatap tak percaya.
“Iya Ma, Bayu pulang.” Ucap Bayu perlahan diiringi senyum tipis.
AIR MATA ZIYA
Fikri duduk terdiam di dalam bus yang mengantarkannya menuju ke stasiun. Ia menatap jalanan padat ibukota, seperti biasanya. Hari ini fikri akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Meinggalkan kampung halamannya, keluarganya, semua teman-temannya, dan fauziya, gadis berkerudungnya, yang dengan anggun selalu hadir dalam setiap angannya akan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Entah bagaimana awalnya sehingga seorang lelaki konyol seperti fikri dapat dibuat tak berkutik di hadapan gadis itu. Tak pernah terpikir oleh Fikri sebelumnya, bagaimana mungkin seorang Fikri yang tak pernah bisa serius menghadapi perempuan, akhirnya bisa menetapkan hatinya untuk seorang gadis. Ia tak pernah menolak untuk memiliki seorang istri baik hati dan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Hanya saja ia merasa bahwa sekarang bukan saatnya untuk itu, ada cita-cita yang harus ia wujudkan. Cita-cita besarnya, mimpi orang tuanya bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi orang besar dan dapat membanggakan mereka. Ia tidak akan main-main dengan itu, terlalu banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang tuanya hanya demi seorang Fikri.
####
Fikri
melangkah perlahan menuju ke stasiun, hatinya masih tak tentu arah. Ada hal
yang masih mengganggu pikirannya. Sudah berkali-kali ia coba menghubungi ziya
namun tak membuahkan hasil. Ia tak mengharapkan apapun, hanya ucapan selamat
tinggal. langkahnya terhenti sebentar. Dirogohnya saku celana untuk mengambil
telepon genggamnya, mencoba menelepon ziya sekali lagi, untuk yang terakhir
kalinya sebelum ia benar-benar pergi.
Tut...
tut... tut...
Tersambung,
kali ini tersambung. Jantung fikri tiba-tiba berdetak tak keruan. Nadinya
berdenyut-denyut tanpa ampun. Semakin tak berarutan lagi ketika terdengar
jawaban di ujung telepon.
“assalamualaikum,
iya mas?”
“waalaikumsalam,
ziya...” tiba-tiba fikri bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
“iya,
maaf mas, handphone ziya kemarin ketinggalan di kamar. Ziya nggak tahu kalau
mas fikri hubungin ziya. Mas berangkat hari ini ya?” suara lembut itu membuat
kaki fikri lemas.
“gak
pa-pa zi, mas kemarin Cuma mau pamit doang kok. Ini mas lagi di stasiun, bentar
lagi berangkat. Kamu lagi dimana? Kok ribut banget?” fikri mencoba berbasa-basi
agar tak terdengar canggung.
“iya
mas, ziya emang lagi di tempat rame. Kereta mas jam berapa berangkat?”
“masih
setengah jam lagi sih, tadi mas sengaja berangkat lebih awal biar nggak telat.
Takut kena macet.” Percuma saja fikri mencoba tenang. Bahkan sekarang suaranya
terasa bergetar dengan jelas.
“mas
kok kayak yang gemetaran gitu sih, mas lagi nggak enak badan? Mas nggak
kenapa-kenapa kan? Suara lembut ziya terdengar khawatir, dan begitu tulus.
Semua
ini hanya menambah kecanggungan fikri semakin menjadi-jadi. Tak tahu lagi harus
mengatakan apa, akhirnya fikri memutuskan untuk menutup teleponnya.
Mungkin
lebih baik kalau lewat sms saja, begitu pikirnya. Namun tiba-tiba teleponnya
bordering.
Ziya..
Mau
tak mau fikri menjawab telepon itu.
“assalamualaikum,
Kok teleponnya mati mas?”
“Waalaikumsalam,
ee.. itu tadi, mungkin tadi jaringannya lagi jelek.” Bohong.
“oh,
mas kenapa bohong?”
Deg!!
“maksud
kamu?”
“mas
tadi yang sengaja nutup telepon. Ziya lihat kok. Mas coba tengok ke belakang.. klik” telepon mati
Jantung
fikri serasa berhenti. Entah ia harus senang, marah atau bagaimana lagi. Kaget.
Mungkin itu deskripsi yang paling tepat. Tak tahu harus bagaimana lagi.
Perlahan
gadis itu menghampiri fikri yang terdiam mematung seperti orang kehilangan
akal. Ziya melangkah pelan dengan senyum anggunnya yang melenakan. Tak pernah
tidak cantik, namun ada sesuatu yang tak biasa. Paduan antara kerudung dan
bajunya, dandanannya hari ini seperti sesuatu yang tidak asing, sesuatu yang
istimewa.
“mas
belum jawab pertanyaan ziya. Kenapa bohong sama ziya tadi?” nadanya menyelidik,
menuntut sesuatu. Hebatnya kaum hawa, selalu tahu bagaimana cara membuat lelaki
tak berkutik dengan pertanyaannya.
“....”
fikri masih seperti tersihir, lidahnya terasa kelu tak tahu harus berkata apa.
Ziya
tersenyum, lagi-lagi.
“ya
udah kalau mas nggak mau ngomong. Mungkin nggak tepat kalau ziya ke sini.
Sebaiknya ziya pulang. Kereta mas bentar lagi datang kan. Lebih baik mas
siap-siap aja dulu biar nanti nggak buru- buru.”
“Oh,
okeh, ya udah ati-ati di jalan ya zi,” jawab fikri dengan datarnya. Fikri bodoh!! Umpatnya dalam hati.
“oh,
ya udah mas, assalamualaikum...” kebingungan jelas terlihat dari wajah ziya.
Bingung dan sedikit goresan kecewa.
“waalaikumsalam”
Bodoh!!! Rutuk fikri dala hati. Ya,
hanya bisa bicara dalam hati.
Masa gitu doang. Please jangan
bikin aku nekat lebih dari ini mas...
ziya
berbalik dan beranjak pelan-pelan. Dua langkah, tiga langkah dan akhirnya ziya
menyerah. Entah dia yang terlalu nekat atau lelaki di hadapannya itu yang
begitu bodoh hingga tak menangkap maksud dirinya yang sebenarnya. Ziya berbalik
lagi dan dengan gemas berkata
“sumpah
ya, baru kali ini ziya ketemu orang kayak mas fikri. Mas sengaja ya mau bikin
ziya gila? Mas mau ziya nunggu sampai kapan? Atau ziya yang harus ngomong
duluan ke mas fikri? Hiihhh, bikil jengkel tau nggak!”
“...”
semakin kaget fikri mendengar apa yang baru saja ziya ucapkan.
“maaf
mas, nggak seharusnya ziya bicara kayak gitu. Maaf. Mending ziya pulang aja.
Assalamualaikum.” Buru-buru ziya melangkah sambil menyesali ucapannya yang tak
terkendali barusan.
“ziya
tunggu!!” seru fikri. Spontan ziya menoleh ke belakang lagi.
“mas
belum jawab salam kamu. Waalaikumsalam.” Jawab fikri dengan muka datar.
“iihhhh,
mas fikriii...!!!” ziya tersenyum kesal setelah melihat ada senyum jail di
wajah fikri.
“heheheh,,
maaf, maaf. Okay, sekarang mas mau ngomong serius sama kamu. Mas harap apapun
yang mas omongin, nggak akan ngerubah sikap kamu ke mas fikri ya.” Fikri
berusaha mengatur nafasnya pelan. Mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Di
sisi lain, ziya pun mencoba membuat dirinya terlihat tenang. Ia tahu betul apa
yang akan dibicarakan oleh lelaki konyol di hadapannya itu jika dilihat dari
gelagatnya. Namun bukan fikri namanya jika mudah ditebak. Sudah berkali-kali
ziya tertipu dengan sikap dan gaya fikri yang membingungkan. Ada sedikit rasa
takut dalam hatinya, takut kalau-kalau apa yang dipikirkan ziya ternyata salah.
Takut bahwa selama ini ia hanya salah paham mengenai perasaan fikri kepadanya,
dan bahwa apa yang ia rasakan hanya bertepuk sebelah tangan.
“fauziya,
jika ada gadis yang kuharapkan menjadi alasanku untuk menyempurnakan agamaku,
menjadi pelengkap tulang rusukku, dan menemaniku menjadi sejatinya lelaki, maka
gadis itu adalah kamu, sejak pertama ku lihat kamu mengenakan jilbab itu. Mas
nggak punya kata-kata romantis ataupun janji-janji manis seperti yang banyak
orang lain ucapkan. mas juga nggak bisa ngasih kamu bukti betapa kamu adalah
gadis yang mas impikan menjadi pendamping mas nanti. Namun jika memang Allah
mengijinkan kamu menjadi takdirku, jika memang kamulah yang jadi jawaban Allah
atas doaku tentang seorang istri. Maka Insya Allah dengan seluruh hati ini,
sepenuh jiwa ini, dan dengan setiap nafas yang dianugerahkan olehNya, tak akan
kubiarkan ada sesal dalam hidupmu telah mendampingiku.” Panjang lebar fikri
mengungkapkan isi hatinya.
Ada
airmata meleleh di pipi ziya. Perasaan terharu, juga lega bahwa hal yang paling
ditunggunya akhirnya terungkap. Bahwa ada cinta yang menghubungkan mereka.
“....”
dan kini giliran ziya yang tak mampu berkata apa-apa lagi.
“kamu
nggak perlu jawab apapun zi. air mata kamu, mas udah tahu jawabannya. Jika kamu
yakin sama mas, sama apa yang kita perjuangkan, maka alasan mas kembali nanti
adalah jawaban Allah atas doa kita berdua.” Ingin sekali fikri mengusap air
mata yang mengalir di pipi menggemaskan seorang fauziya, tapi ia tahu ini belum
saatnya.
“....”
“....”
Mereka
berdua diam, tak ada lagi kata-kata yang perlu diungkapkan. Tak perlu lagi ada
yang dibicarakan. Hanya senyum yang terlihat di wajah mereka. Ada sejuk
menyelinap di hati, ketika segala yang terpendam telah saling terungkapkan.
Sedikit rikuh, namun terasa nyaman.
Bunyi
peluit kereta melengking panjang. Sudah saatnya fikri berangkat. Akhirnya fikri
mengucapkan salam. Berbalik pergi menuju keretanya yang beranjak melaju. Di ambang
pintu kereta dilihatnya untuk terakhir kali senyum melenakan itu. Senyum yang
akan memaksanya kembali untuk sebuah janji. untuk ziya.
####
Langganan:
Komentar (Atom)


