Sabtu, 25 April 2015

DIA BELUM PERNAH SECANTIK MALAM INI



Malam itu dia terlihat begitu cantik. Tentu saja ia tak pernah tidak tampil cantik bagiku, 7 tahun aku dibuat linglung setiap kali berhadapan dengannya. Di hadapannya, aku seperti kehilangan separuh kesadaranku dan dibuat bodoh sebodoh-bodohnya dengan senyumnya yang melenakan itu. Pikiranku seolah hilang entah kemana, logikaku lumpuh tak mampu mencerna apa pun. Yang kurasakan hanya bahwa aku tak pernah butuh logika untuk bisa bahagia asal berada di dekatnya. Aku bahkan tak perlu memikirkan apapun asal ada dia bersamaku. Rasanya seperti mimpi saja, melihatnya mengenakan gaun pengantin, berjalan dengan anggun dan tersenyum pada setiap tamu yang datang. Diiringi alunan musik lembut yang semakin menambah kesempurnaannya malam itu.

Perlahan dia mendekat, senyumnya masih saja membuatku seperti orang hilang akal. Ia menatapku sambil terus berjalan. Aku begitu mengenalnya, aku sangat paham arti tatapan itu. Itu adalah tatapan bahagia. Kini kami berdiri berhadapan, sama-sama tersenyum. Sama-sama bahagia.

"Malam ini adalah malam paling sempurna seumur hidup aku. Kamu belum pernah secantik malam ini." kataku setengah berbisik.

Ia hanya tersennyum. Rasanya tanpa perlu kami bicara pun, kami sudah saling tahu bagaimana perasaan kami malam itu. Bahagia. Hanya bahagia.

"Seharusnya dari dulu ya kamu kayak gini Mel, aku sampe gak kedip dari tadi ngelihat kamu kok cantik banget."

"Jadi selama ini aku gak cantik maksud kamu?" dan si Cantik ini masih saja bisa bercanda

"Kamu tahu gak ada gadis lain lagi yang aku bilang cantik selain kamu. Kamu itu yang bi..."

"Aku adalah orang yang bikin kata cantik itu jadi punya definisi. gombal aja terus kamu. dasar. hahahah.."

"Nah itu kamu tahu. Well, gak nyangka hari ini akhirnya datang juga. Udah lama banget yah, sejak si  bodoh ini dateng ke rumah kamu siang-siang buat bilang sayang tapi gak jadi." 

"heheheh... Iyah. Udah banyak banget yang kita laluin sejak hari itu. Dan kamu itu satu-satunya cowok yang bikin aku nunggu lama banget buat minta kepastian. Tega ya kamu."

"Semakin besar kamu mencintai seseorang, semakin besar juga ketakutan akan kehilangan dia. Dan saking takutnya kehilangan, kamu bakal takut buat nyatain perasaan itu ke dia. Butuh waktu buat aku ngalahin rasa takut itu dan bilang kalo aku sayang sama kamu."

"Kamu harus janji sama aku bahwa rasa sayang itu gak akan pernah berkurang sampai kapanpun."

"Saat kamu ngukir sesuatu di batu, kamu gak akan bisa ngehapus ukiran itu kecuali ngehancurin batunya juga."

"Maksud kamu?"

"Mel, kamu bakal selalu terukir di hati aku. Gak ada yang bisa ngerubah itu kecuali kamu gantu hati ini pake hati ayam kampung." kataku sambil menunjuk dada.

"Makasih. Aku bahagia banget bisa dicintai sama orang kayak kamu."

"Aku yang beruntung bisa punya kesempatan buat mencintai kamu."

perlahan alunan musik berhenti. Lampu-lampu di ruangan mulai meredup digantikan dengan lampu sorot yang mengarah pada si pengantin wanita. Kugandeng tangannya, perlahan kami menuju ke pelaminan. Sekilas ku lihat air matanya menetes. 

"Makasih banget lo udah mau jauh-jauh dateng dari Budapest buat nemenin Melisa, Dan." Tukas Fandi, sang mempelai pria saat kami sampai di pelaminan.

"Gua udah biasa kok direpotin sama si kutil satu ini Fan, tenang aja. Lagian gak mungkin gua gak dateng di pernikahan sahabat gua sendiri. Tuh, udah gua bela-belain dateng aja masih nangis gini dia." kataku sambil kuserahkan Melisa ke tangan Fandi.

"hahahah... lo bisa aja Dan. Thanks anyway for everything, bro. Gue gak tau deh gimana sama Melisa kalo lo gak dateng." Fandi menyalamiku. 

"Semoga kalian berdua bahagia yah. Fan, gua nitip Melisa. tolong yang sabar ngadepin nih anak ya. Gua tau lo cowok terbaik yang bisa ngebahagiain sahabat gua yang satu ini."

"Pasti sob. Pasti."

"Dan buat kamu Mel, ..." Rasanya aku tak tahu harus bicara apa lagi. Dan sepertinya tanpa kami bicara pun, kami sudah saling tahu apa yang ingin kami ungkapkan satu sama lain. Hanya kami.

"... jangan lupa kasih garem kalo masak."

Kulihat Melisa tertawa tertahan. Ada air mata di sana. Air mata bahagia. Malam ini, hanya akan ada bahagia. Cinta ini, yang bertahun-tahun ku simpan untuknya. Meski bukan bagianku untuk yang menjadi pendamping hidupnya, namun adalah satu-satunya hal berharga yang bisa kupersembahkan. Dan karena itu, maka berbahagia atas kebahagiaannya adalah satu-satunya hal yang bisa menjadi bukti atas nyatanya cinta itu. Dan sekali lagi. Dia belum pernah secantik malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar